Logo Formasi dengan Makna Filosofinya
Formasi bagi sebagian orang adalah lembaga yang yang terlalu kecil untuk dibanggakan, apalagi harus diistimewakan. Perasaan ini tidak hanya dierasakan oleh orang luar bahkan mungkin dirasakan oleh orang internal Formasi sendiri, apalagi dikaitkan dengan Formasi seperti sekarang ini, maka sangat wajar bila rasa kecil hati, pesimis dan apatis muncul. Silahkan saja anda memiliki rasa dan sikap seperti itu. Tetapi, maaf saya tidak bisa dipaksakan untuk memiliki perasaan seperti yang kalian rasakan.
Cerita ataupun curahan hati saya ini sudah diduga pasti banyak yang menilai terlalu lebay atau berlebihan. Terserah kalian mau bilang apa, itu urusan kalian, tetapi semua uraian saya ini adalah semua tentang fakta dan pengalaman saya selama ada di lembaga yang saya anggap sebagai ibu kandung saya di Makassar.
Baiklah, sebelum saya menceritrakan semuanya, ada baiknya saya memperkenalkan diri dulu agar kawan-kawan tidak bertanya-tanya. Nama saya cukup singkat dan padat yaitu “Fadlin” yang lebih dikenal Fadlin Guru Don (FGD) di media-media Sosial. Pertanyaannya, kenapa ada Guru Don? sejarahnya singkat saja, bahwa saya memiliki nama beken dan dipanggil Adon (Asli Donggo), juga kawan-kawan saya banyak yang memanggil saya dengan Guru, bahkan tidak sedikit juga yang memanggil dengan Guru Donggo. Karena dianggap terlalau banyak, oleh seorang teman saya menyingkatnya dari Guru Donggo Menjadi Guru Don, begitulah riwayatnya sehingga sekarang saya lebih populis dengan nama Fadlin Guru Don.
Saya dilahirkan ditanah Wadukopa yang baru merdeka dari pembangunan jalan aspal dan listrik, desa bersejarah walaupun kenyataannya tiga kali harus berpindah lantaran kesusahan air minum. Namun saat ini Alhamdulillah Wadukopa sudah berkecukupan.
Di Formasi saya tidak juga terlalau lama, mulai dari tahun 2007 sampai 2014, hanya 7 tahun lamanya dengan segala macam posisi dan jabatan. Mulai dari Anggota, Sekbid, Ketua Umum, Dewan Pendamping hingga Dewan Pembina. Alhamdulillah ditahun 2008 saya terpilih menjadi Formatur terpilih lewat mandat Musyawarah Besar (MUBES) kemudian dikukuhkan menjadi Ketua Umum secara resmi pada tanggal 20 Januari 2009. Itulah sekilah biografi pribadi saya, semoga kita semua tidak saling melupakan satu sama lain. Amiin
Baiklah sobat semua saya akan memulai kisah ini. Mudah-mudahan segala macam hal yang saya kisahkan bernilai benar dan sesuai dengan fakta walaupun kita tidak bisa menghalangi orang lain mengatakan saya dusta dan mengada-ngada, tetapi saya percaya kepada bukti dan fakta sejarah yang akan melegitimasi catatan ini. Coretan ini saya beri tema “catatan Hati mantan Ketua Umum Formasi ke-Tiga”. Karena benar saya adalah ketua Umum periode ketiga Formasi.
Ini perlu saya sampaikan agar menjadi inspirasi bagi adek-adek di Formasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Saya ingin menceritakan dari awal hingga akhir. Formasi memang bukanlah lembaga pengkaderan yang segala dialek intelektual ada didalamnya, justru kita harus datang menyumbang bukan menerima pemberian Formasi. Tetapi bagi saya Formasi adalah guru pertama saya yang seolah-olah mengajak saya belajar berdiri disaat saya masih merangkak, yang ikhlas melatih saya berjalan disaat saya baru bisa berdiri, dan seterusnya.
Saya harus akui bahwa Formasi adalah panggung pertama bahkan diwadah ini saya mulai dilatih untuk berani berbicara didepan umum. Sekiranya materi-materi dasar kajian tidak diawali oleh Formasi maka sudah bisa dipastiakan saya akan membisu di forum-forum pengkaderan semacam di HmI dan lembaga intra kampus lainnya. Tidak hanya itu kami diajarkan untuk menghargai yang tua dan menghormati yang muda. Ada semacam tradisi bahwa senior adalah “nabi” dalam tanda kutip, mereka adalah segalanya yang menjadi pengganti orang tua kami selama di Makassar. Kekurangan dan kelebihan kami adalah semua tanggung jawab mereka.
“Sebagai bukti empiris ketaatan itu saya aplikasikan khusus diinternal mahasiswa Wadukopa, bahwa semua junior atau yang usianya lebih muda wajib hukumnya memanggil kakak untuk yang lebih tua, bahkan yang perempuan sekalipun seleting atau umurnya sama wajib panggil kaka kepdada teman laki-lakinya (Bima; Amania). Pikiran saya ini sederhana karena dengan cara ini satu-satunya jalan agar sopan santun sesuai kultur ke-Donggoaan bisa terwujud, begitu juga dengan yang perempuan bisa mendengar nasihat dan saran dari teman laki-lakinya (amanianya). Biasanya perempuan kalau dinasehat sesama sejawat biasanya suka membantah, maka dengan menghargai tadi bisa merubah sikap bantah dan bandel adek-adek perempuan ini menjadi jinak”.
Tantangan Selama Memimpin
Selama memimpin Formasi, segala suka-duka, susah-senang sudah menjadi hari-hari yang harus dijalani. Semua masalah dan solusinya hampir suka atau tidak Ketua Umum harus siap pasang badan. Baik materi, tenaga dan pikiran adalah sesuatu yang lumrah yang wajib dikorbnakan. Sobat, itu biasa saja bahkan saya harus menerima tamparan dan “ditelanjangi” dimuka umum oleh senior. Kalian sekarang mungkin tidak adalagi senior yang super ganas.
Awal-awal saya menerima mandat Ketua Umum saya harus mendapat masalah yang cukup besar, yang saat itu saya masih dibilang labil, ya baru dilatihlah kira-kira begitu. Kejadianya pada saat kami membuat spanduk Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk melakukan pengkaderan anggota baru. Pembuatan spanduk pada zaman kami yaitu masih sifatnya manual, jadi harus dibuat dan di tempel sendiri huruf demi huruf. Tetapi hikmahnya sangat besar, disitu kami bisa bekerja sama, susah dan senang cecara bersama, sekaligus disitu kami bisa curhat apa aja, kebetulan ditengah kami ada guru spesial curhat, beliau adalah seorang sastrawan yang saat inipun telah berhasil mendedikasikan karyanya lewat buku “Tuhan Telah Terpenjara”.
Beliau adalah kanda Baharudin yang populer dengan nama “La Ndolo Conary”. Tidak hanya namanya Ndolo (Liar) memang keseharianya di Bima benar-benar “liar”. Liar menyebarkan firus dan energi positif untuk para generasi. Namanya tidak usah ditanya lagi, beliau sudah sangat populis dimana-mana, ditengah mahasiswa dan pemuda hingga kepelosok-pelosok desa. Jika ingin belajar sastara dan puisi, sara saya disanalah tempatnya.
Lanjut cerita, disaat asyik menempel spanduk tiba-tiba datang seorang senior yang saya tidak perlu sebut namanya, beliau sudah menjadi sepuh bahkan masih ada di Makassar saat ini. Ia datang dengan rasa marah dan mengamuk mengobrak-abrik kami di sekret Formasi bahkan sampai memukul salah satu senior yang bagi kami beliau adalah guru yang kami hormati. Sebagai junior saya tidak bisa berbuat apa-apa sekalipun saat itu saya berkapasitas sebagai Ketua Umum. Itu masalah mereka sesama senior, jadi kami hanya melerai semampunya saja.
Persoalannya yang menurut saya karena salah pengertian. Ada lembaga kajian yang dibangun oleh 5 orang senior yang namanya Kangker Intelektual (KOKAIN). Oleh senior yang mengamuk tadi menganggap KOKAIN sebagai lembaga tandingan Formasi dan FKKMDB (Forum Kerukunan Keluarga Donggo Bima), padahal Lembaga ini murni lembaga kajian untuk membangun khasanah keilmuan, termasuk siapapun bisa ikut serta didalamnya. Kalaupun dianggap penghinat buktinya senior-senior KOKAIN masih pro-aktif disetiap kegiatan Formasi muapun FKKMDB.
Tibalah Waktunya LDK dilaksanakan, masalah itu terus bergulir hingga terjadi pemukulan anggota Kokain yang lain oleh orang yang sama. Konflik itu sempat menggangu konsetrasi jalannya kegiatan. Kejadian itu persis terjadi pada saat kami mengadakan briefing dengan beberapa senior, steering committee, dan panitia pelaksana untuk merumuskan agenda pengkaderan selanjutnya, kaitan dengan teknik evaluasi lapangan. Karena evaluasi lapangan adalah merupakan rangkaian wajib dalam pengkaderan Formasi.
Oleh karena kondisi saat itu cukup tegang dan caos saya mencoba mendesak evaluasi lapangan untuk dibatalkan walaupun pada saat itu saya sangat paham semangat dan rasa antusias anggota yang ingin “balas dendam” untuk memplonco adik-adik barunya. Didalam Rapat itu terjadi silang pendapat dan dialektika yang dinamis, ada yang menginginkan evaluasi lapangan tetap dilaksanakan dan ada juga yang ingin meniadakannya demi menjaga keamanan anggota baru.
Ditengah pertengkaran argumen itu saya sebagai pemimpin tentu merasa lebih bertangggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi, maka pada saat itu atas nama Ketua Umum saya bersikeras untuk membatalkan evaluasi lapangan demi keselamatan anggota. Akhirnya diputuskanlah tidak ada plonco dan evaluasi diatas ruangan saja.
Walaupun harus berbeda dengan senior-senior dan panitia, rasanya saya baru pertama kali merasakan sebagai seorang pemimpin yang sebenarnya, telah berhasil mengambil kebijakan ditengah kontroversi yang ada. Sejatinya pemimpin harus menentukan kebijakan yang lebih besar manfaatnya daripada mudharatnya.
Style kami dimasa dulu (Kaces, FGD, Kinton, Arul)
Style kami dimasa dulu (Kaces, FGD, Kinton, Arul)
Akibat dari kebijakan itu, saya harus mendapat reaksi kecewa dari anggota, bahkan ada juga yang mendeklarasikan diri untuk meninggalkan dan tak ingin lagi bergabung di Formasi. Pekerjaan besar harus saya tempuh untuk terus membangun komunikasi dan rekonsiliasi untuk mengembalikan teman-teman kedalam Formasi. Ingin rasanya mengeluh tapi apa boleh buat mandat ini sudah terlanjut diemban. Akhirnya setelah usaha dan kerja keras Formasi kembali hidup seperti sedia kala.
Belum lagi soal keluarnya satu desa dari Formasi pada saat kepemimpinan Yusmanto (Sampungu) setelah periode saya. Kami harus mengemis-ngemis puluhan kali kepada senior-seniornya untuk kembali ke Formasi. Masih ingat jelas jawaban senior pada saat itu “Formasi urus dapur sendiri dan kami juga urus dapur kami sendiri”. Rasanya amat berat kami menerimanya karena kami tidak rela desa itu anak kandung Formasi yang harus berdurhaka kepada ibu kandungnya sendiri. Bahkan tidak hanya itu kamipun mencanakan agenda khusus lewat temu alumni di kampung untuk membahas khusus persoalan ini. Hasilnya pun nihil.
Itu masa lalu, lupakanlah semuanya, anggap saja itu warna-warni hidup. Saya pun tak tertarik lagi untuk membahas ini karena saya sudah tak ingin lagi membuka lembaran lama yang kemudian kembali merusak keharmonisan saya dengan teman-teman, senior-senior dan adek-adek saya saat ini yang sudah sangat baik. Percayalah bahwa semuanya sudah usai. Alhamdulillah kita semua harmonis tanpa secuilpun masalah.
Apa maksud saya menceritakan ini semua walaupun tidak positif bagi kalian generasi? Agar siapapun kalian yang memegang kendali Formasi dapat menjadikan ini pelajaran yang berharga. Bahwa konflik atau masalah apapun yang terjadi didalam lembaga bukanlah alasan bagi kalian untuk mengeluh, itu semua adalah pelangi dan wajib ada didalam lembaga manapun. Apalagi masalah yang dihadapi kalian saat ini hanyalah masalah anggota yang apatis atau cuek terhadap Formasi. Itu masalah yang sangat kecil yang selalu ada didalam lembaga manapun.
Mengurus lembaga daerah semacam Formasi modalnya hanya satu yaitu ke-IKHLASAN. Hanya orang ikhlaslah yang mampu bertahan untuk mengurus lembaga yang tidak memiliki gaji bulanan seperti lembaga pemerintah lainnya. Tetapi percayalah bahwa keikhlasan kalian saat ini akan terbalas dimasa yang akan datang. Karena Allah SWT telah berjanji “barang siapa yang bersungguh-sungguh dialah yang dapat” atau seperti kata sebuah falsafah “siapa yang tanam dialah yang akan memetik hasilnya”. Maka “berbuatlah tanpa pamrih dan jangan mengeluh karena mengeluh dapat mengecilkan jiwa kalian”. Insya Allah keberhasilan akan menanti kalian semua. Amiin.
Terobosan menuju Formasi baru
Usai sudah semua tantangan, tibalah saatnya memikirkan Program Kerja hasil keputusan Musyawarah Kerja (MUSKER). Dari hasil keputusan itu ada sederetan program kerja baru yang bila dipikirkan sangat sulit dituntaskan, diantaranya: Kajian Rutin dan kajian Muslimah (langganan tahunan), pembinaan bakat dan minat (Pelatihan Pemateri dan Lomba Catur, Pembuatan Buletin; semuanya ini adalah program baru), lalu program besar seperti Bedah Buku, dan bebrapa kali Diskusi panel. Disamping itu kami mengadakan Diskusi Publik dikantor Kecamatan Soromandi dengan tema khusus “meretas problema sosial yang ada di Soromandi” dan LDK di beberapa Desa hingga ke Sampungu ujung Soromandi. Bahkan masih banyak kegiatan-kegiatan lain diluar program amanat Musker yang juga kami lakukan.
Foto Kebersamaan pengurus Formasi
dan Ketua Umum FKMDT Muh. Syahrul (Paling Kanan)
Foto Kebersamaan pengurus Formasi
dan Ketua Umum FKMDT Muh. Syahrul (Paling Kanan)
Alhamdulillah berkat kebersamaan dan persatuan kami bisa tuntasakan satu persatu. Itulah semua karya yang kami lakukan dulu. Mohon maaf saya harus saya sampaikan, bahwa program-program yang ditawarkan Formasi Hari ini jauh minimalis dibandingkan program-program disaat kami belum mengenal teknologi seperti gadget dan media sosial seperti saat ini.
Dulu kami harus rela berkeliling Kota Makassar untuk mengatar satu persatu undangan keseluruh senior dan anggota. Bahkan tidak jarang kami harus tidur ditempat tujuan bila terlalu malam untuk kembali kekontrakan sendiri. Bisa dibayangkan bagaiman beratnya kami jika dilihat besarnya medan Makassar mulai dari Alauddin-Manuruki (UIN-UNISMUH), Sukamaju-Pampang (45-UMI), Perintis Kemerdekaan (UNHAS) kemudian tembus ke Antang (UVRI). Rotasi ini ditempuh hampir 2 kali sebulan.
Kami tidak sedikitpun mengeluh karena kami sadar bahwa setiap zaman memiliki generasi dan setiap generasi memiliki sejarah.
Kelemahan serta Critical Point
Formasi sejak saya keluar dari Kota Daeng pada tahun 2014 sudah bersusia 8 periode kepemimpinan. Usianya sudah cukup dewasa apalagi sampai saat ini mungkin sudah mencapai usia 13 tahun. Seharusnya dengan usia ini Formasi tidak lagi diajari untuk belajar berjalan tetapi harusnya sudah bisa menentukan arah dan masa depannya sendiri.
Formasi dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat saat ini sudah seharusnya lebih maju dan dan berkembang. Bahkan lebih canggih dibandingkan Formasi di zaman kami dulu. Tetapi kenyataanya, Formasi semakin mundur dan bahkan namanya hampir tertelan dimakan zaman.
Formasi berdasarkan pantauan kami masih berkutat pada soal mengaktifkan anggota padahal tugas itu adalah pekerjaan kami di zaman industri 2.0 belum masuk. Sekarang generasi kalian sudah masuk pada era milenial industri 4.0 (Four Pont Zero). Generasi dituntut untuk merubah maindset kuno ke cara berpikir yang moderen dan kontemporer.
Menurut saya masalah kalian cukup sederhana dan amat simpel sebenarnya. Hanya pada persoalan kalian tak paham realitas atau kebutuhan anggota kalian. Cobalah sekali-kali baca kemauan mereka apa. Jika mereka sukanya main bola jangan paksakan kajian, ajaklah mereka main bola, atau ada yang suka makan-makan, tidak masalah pengurus membuat acara makan-makan bersama. Jangan anggap acara hiburan itu tidak penting karena biasanya orang berinovasi lewat hobinya. Juga bagi yang suka menulis atau suka berpuisi coba fasilitasi mereka. Hanya menjawab kebutuhan kaderlah, Formasi bisa maju.
Zaman industri 4.0 adalah zaman yang memaksa anak bangsa untuk berpikir kreatif dan inovatif serta memiliki life skill lewat arus ilmu dan teknologi moderen. Bukan bertahan menjadi generasi otak manual dan klasik. Bila demikian maka kita akan jauh ketertinggalan dari segala macam hal. Di zaman ini orang bisa berhasil apabila ia pandai “menundukkan kehendak alam semesta”, ia mengerti kemauan serta arah perubahan zaman karena otak kita harus bisa menyaingi perkembangan teknologi.
Foto FGD bersama kawan-kawan saat Wisuda S2 UNM
Momen terakhir di kota Daeng 2014
Foto FGD bersama kawan-kawan saat Wisuda S2 UNM
Momen terakhir di kota Daeng 2014
Ditengah Industri 4.0 ini sejatinya Formasi tidak lagi bicara soal kurang partisipasi anggota tetapi saatnya kalian menunjukkan karya dihadapan dunia. Saat ini kuantitas tidak lagi penting, kerena perang kita bukan dengan senjata tetapi dengan ide dan gagasan. Berapapun kalian di Formasi tiadaklah penting, satu dua orang asal kalian berkualitas. Bangunlah wahai adek-adekku, “ayo bung rebut kembali” kesempatan emasmu. Berkaryalah tanpa harus mendapat pujian orang lain. Bagi yang selalu berkarya, ada saaatnya kalian menjadi tontonan bagi orang banyak saat kalian berada diaatas panggung great success (Keberhasilan Besar).
Sebagai akhir dari tulisan ini saya berpesan hentikan kecemasan kalian karena sedikit anggota, 2 orang pun sah asal berkualitas. Dunia sedang menunggu coretan kalian, masyarakat dan Indonesia sedang menunggu buah pikiran kalian semua. Ayo lakukan sesuatu, jangan pikirkan berhasil atau tidak, biar Allah SWT yang akan memutuskannya. Ingat, “Kebanyakan orang gagal karena banyak alasannya dan kebanyakan orang berhasil karena banyak caranya”. Masih banyak sebenarnya tetapi cukup sampai disini dulu. Bersambung...
Jayalah Formasi, Jayalah adek-adekku. Saya OKE, kalian OKE, mari kita sama-sama OKE. Terima Kasih.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar